Sekolah, Pendidikan dan Perubahan Sosial

Februari 20, 2008

Sekolah, Pendidikan dan Perubahan Sosial 

Sudah umum dianggap bahwa pendidikan merupakan sarana yang sangat penting bagi seseorang untuk sukses dalam usaha mobilitas vertikal untuk mencapai strata sosial yang lebih tinggi. Sementara itu penyelengaraan pendidikan dewasa ini di manapun di dunia didominasi oleh lembaga raksasa bernama sekolah. Saking kuatnya dominasi itu hingga mayoritas masyarakat merasa sekolah merupakan satu-satunya tempat yang paling kredibel bagi orang-orang muda dalam memperoleh ilmu.

Oleh sebab itu sekolah juga mendapat tempat yang istimewa dalam pemikiran tiap orang dalam usahanya meraih tangga sosial yang lebih tinggi. Sedemikian istimewanya hingga sekolah telah menjadi salah satu ritus yang harus dijalani orang-orang muda yang hendak mengubah kedudukannya dalam susunan masyarakat. Mudah diduga bahwa jalan pikiran seperti itu secara logis mengikuti satu kanal yang menampung imajinasi mayoritas mengalir menuju sebuah muara, yakni credo tentang sekolah sebagai kawah condrodimuko tempat agen-agen perubahan  dicetak.

Pandangan di atas sama sekali tidak baru. Juga akan sangat berlebihan bila menganggap ide seperti itu sebagai suatu terobosan sebab tak akan lebih dari botol baru untuk kecap yang sama. Dalam konteks Indonesia ide tentang sekolah sebagai tempat dicetaknya agen-agen perubahan adalah pandangan lama yang sudah ada setidaknya pada pengembangan sekolah rakyat yang dipimpin Tan Malaka. Pada masanya salah seorang legenda pergerakan nasional itu menjadi pemimpin Sarekat Islam (SI) di Semarang. Di sekolahnya, Tan Malaka merekrut anak-anak rakyat jelata, mendidiknya dengan disiplin yang khas dan mengajarkan ketangkasan berpikir dan ketrampilan kerja tangan yang cukup praktis untuk hidup. Ia ajarkan baca tulis, ilmu berhitung dan tentu saja bahasa. Ia latih kerja otot yang perlu untuk hidup sehari-hari  dan yang berguna untuk mengajarkan kerendahan hati bagi anak-anak tersebut. Ia ajarkan kesenian untuk memperhalus perasaan dan menajamkan kepekaan nurani. Tak lupa kepada anaka-anak diajarkan juga keberanian dan penanaman suatu pride dengan berbaris, membuat parade sambil bernyanyi sepanjang jalan raya. Sekolah Sarekat Islam juga mengajarkan tolong-menolong dan melatih kepercayaan diri dengan cara kakak kelas mengajar adik kelas. Makin hari makin bertambah-tambah anak sekolah itu. Sukses!

Tindakan Tan Malaka sebagai guru, intelektual yang berpengaruh sekali pada masa itu, tentu tidak berasal dari ruang kosong sebagaimana dia sendiri tidak muncul goib sebagai deus ex machina. Kesadarannya tentang arti penting pendidikan bagi anak-anak rakyat jelata, atau anak-anak si Kromo menurut istilahnya, tumbuh dari keadaan masyarakat tempat dia bergelut dengan seribu macam kesusahan dan tertawa karena beberapa kesukaan. Perasaan masyarakat waktu itu dicekam oleh hantu kemiskinan yang luas dan kebodohan yang merata. Bahwa sebab pokok, yang harus dihapuskan, dari dua masalah tersebut adalah penjajahan tentu ia sadari. Dalam batas periode historis itu ia memilih mencerdaskan anak-anak miskin. Dia pilih pencerdasan daripada aksi-aksi politik sebab kekuatan-kekuatan historis untuk perjuangan politik belumlah tersedia cukup. Dipilihnya anak-anak si Kromo daripada anak-anak para pegawai birokrasi Belanda karena merekalah yang mengalami malangnya nasib manusia terjajah. Lagipula toh para pegawai itu sudah mempunyai tempat untuk sekolah anak-anak mereka, yakni sekolah-sekolah ciptaan Belanda yang bertujuan mencetak tenaga-tenaga bagi mesin birokrasi negara.

Berbeda dari keadaan semasa awal pergerakan nasional sekolah dewasa ini beranak-pinak dalam dunia yang konstelasi kekuatan di dalamnya kian beragam. Perubahan sosial, misalnya, tak mungkin lagi digerakkan hanya oleh sejenis borjuis di Eropa abad 17 – 18 melawan kaum feodal, atau oleh kelas buruh yang ingin mengakhiri semacam masyarakat borjuis di abad 19 untuk kemudian menciptakan masyarakat nir kelas, atau oleh para petani kecil yang mencita-citakan suatu land-reform. Juga lebih tak mungkin lagi keyakinan bahwa perubahan hanya dimotori oleh kaum profesional yang merasa diri bebas dan kritis.

Masyarakat sipil terdiri dari aneka kekuatan dan gerakan yang membawa dampak perubahan di sana dan di sini. Di Indonesia, misalnya, feminisme berhasil menggolkan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Sukses yang sangat kecil ini bisa berdampak luas secara sosial bila telah berhasil mewarnai pembaharuan-pembaharuan dalam kebijakan publik. Alasannya terang. Jika keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat, tak akan mengejutkan kalau perubahan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga akan menembus ke ruang publik dan mempengaruhi keputusan-keputusan politik di tingkat negara sekalipun.  

Meskipun demikian, civil society  atau masyarakat warga akan berjuang pada batas-batasnya sehingga tak perlu keterlaluan menggantungkan asa padanya. Sikap demikian sama seperti keadaan di mana kita tak lagi bisa terlalu percaya pada negara yang ada untuk rakyat meskipun ia dikuasai oleh rezim yang lolos seleksi secara sangat demokratis. Serupa dengan itu adalah tanggapan kita yang tetap kritis terhadap korporasi yang dengan kekuatan modalnya berusaha memperbaiki diri atau sekedar memoles citra sosialnya dengan seabrek program corporate social responsibility.

Sikap untuk tidak terlalu berharap pada tiga poros masyarakat, korporasi dan negara ini perlu kita terapkan sebagaimana kita harus membatasi diri sewajarnya untuk percaya bahwa sekolah akan meningkatkan kesejahteraan kaum miskin yang bersedia membayar atau yang dibayari ongkosnya. Adalah hak setiap lembaga dalam masyarakat untuk menganggap diri sebagai agen perubahan tetapi keyakinan seperti itu harus pula dijauhkan dari keinginan dirinya sendiri untuk menjadi satu-satunya the choosen agent of changes yang percaya mutlak bahwa dirinya merupakan penegak hukum-hukum sejarah yang dipercaya dapat dijadikan prediktor  perubahan sosial dengan presisi tinggi.

Esensi dari sekolah adalah pendidikan dan pokok perkara dalam pendidikan adalah belajar. Oleh sebab itu tujuan sekolah terutama adalah menjadikan setiap murid di dalamnya lulus sebagai orang dengan karakter yang siap untuk terus belajar, bukan tenaga-tenaga yang siap pakai untuk kepentingan industri. Dalam arus globalisasi dewasa ini perubahan-perubahan berlangsung dalam tempo yang akan makin sulit diperkirakan. Cakupan perubahan yang ditimbulkan juga akan makin sulit diukur. Pengaruhnya pada setiap individu juga makin mendalam dan tak akan pernah dapat diduga dengan akurat.

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sedemikian pesat. Ekonomi mengalami pasang dan surut berganti-ganti sulit diprediksi. Konstelasi kekuatan-kekuatan politik juga berubah-ubah. Kita tak lagi hidup dengan anggapan lama tentang dunia yang teratur harmonis. Sebaliknya setiap individu sekarang menghadapi suatu keadaan yang cenderung tak teratur. Kecenderungan chaos seperti ini harus dihadapi dan hanya dapat dihadapi oleh orang-orang yang selalu siap untuk belajar hal-hal baru. Bukanlah mereka yang bermental siap pakai yang akan dapat memanfaatkan dan berhasil ikut mengarahkan perubahan-perubahan kontemporer melainkan mereka yang pikirannya terbuka dan antusias pada hal-hal baru.

Oleh sebab itu sekolah, di tingkat manapun, yang tetap menjalankan pendidikan dengan orientasi siap pakai untuk para pelajarnya tidak akan berhasil mengemban misi sebagai agent of changes tetapi sekedar consumers of changes. Dari sekolah dengan pandangan siap pakai tidak akan dihasilkan orang-orang muda yang dengan kecerdasannya berhasil memperbaiki kedudukannya dalam susunan sosial output dari sekolah semacam itu hanya dua. Pertama, orang-orang muda yang terlahir berada dan akan terus menduduki strata sosial tinggi, Kedua,  para pemuda tak berpunya yang akan tetap menelan kecewa karena ternyata mereka makin sulit naik ke tangga sosial yang lebih tinggi dari orang tua mereka. Sekolah yang tetap kukuh dengan prinsip-prinsip pedagogis, metode-metode pendidikan dan teknik-teknik pengajaran yang bersemangat siap pakai hanya akan menjadi lembaga reproduksi sosial bukan lembaga perubahan sosial. Indonesia perlu sekolah baru!

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: