bumi manusia: to be or not to be

Februari 16, 2008

bumi manusia: “to be or not to be”

Bagaimanakah bumi manusia beroperasi?

Descartes memaklumkan doktrin “Cogito, ergo sum atau I think, therefore I am” sedangkan Pascal menggariskan dogma “Credo, ergo sum atau I believe, therefore I am”. Menurut Descartes manusia terutama adalah akal yang berpikir sedangkan bagi Pascal manusia lebih dari akal yang berpikir. Demikianlah tanpa berpikir manusia tak akan mencapai kebenaran dan dengan demikian iman tak mungkin tergapai. Meskipun itu benar, namun manusia yang sendirian berpikir tak akan mencapai kebenaran.

Lebih dari itu antara iman dan rasio tidak ada pertentangan hubungan yang saling meniadakan. Menurut Descartes dan juga Aquinas yang penting adalah memisahkan dengan jelas iman dari akal. Sebagaimana akal dapat menyodorkan suatu fondasi kepada iman, demikian pula iman dapat memberikan kepada akal suatu ketinggian dan kesempurnaan final. Apa yang hendak diketahui dan apa yang hendak dipercayai harus dibedakan dengan jelas. Apa yang hendak diketahui adalah presuposisi dari apa yang hendak dipercayai.

Sebaliknya bagi Pascal dan juga Agustinus, meskipun iman dan pengetahuan harus dibedakan, keduanya tak boleh dipisahkan. Seperti iman harus selalu bekerja dengan akal, maka akal selalu harus bekerja dengan iman. Pemisahan antara apa yang hendak dipercayai dan apa yang hendak diketahui tak pernah dapat memadai. Kita berpikir dalam mempercayai dan percaya dalam berpikir.

Ada ungkapan, saya harus mengetahui dalam usaha untuk mempercayai atau sebaliknya, saya harus mempercayai dalam usaha untuk mengetahui. Meskipun berbeda, keduanya sama dalam hal asumsinya tentang adanya kepastian. Yang satu adalah kepastian iman dari mana seseorang berasal dan yang lain kepastian akal ke mana seseorang menginginkannya. Dengan menekankan akal maupun iman orang sama saja, sebab keduanya ditentukan oleh sesuatu dari luar dirinya sendiri. Ia sedemikian tergantung.

Bumi manusia tampaknya tidak menggagas Tuhan: ia tidak dikenai ajaran Sabda maka tak ada pertanyaan tentang rahmat ilahi. Bahkan di bumi manusia itu hanya terdapat dunia tanpa keamanan, tanpa jaminan bahkan bagi seorang Anaelis, Anaelis seorang. Si gadis indo keturunan nyai Jawa dan Belanda totok. Apakah ini merupakan nihilisme bumi manusia ataukah skeptisisme akal manusiawi di bumi dengan segala isinya?

Ilmu pengetahuan mempesona Minke, teknologi membuatnya kagum dan kemewahan tak lepas dari apresiasinya. Dan meskipun baginya poigami harus ditolak dan birokrasi tak menarik hati tetapi ia tetap tak menyukai sepak bola Eropa yang digemari pemuda-pemuda indo dan ia juga tak berminat menambahkan nama keluarga pada namanya. Ia memilih ilmu pengetahuan dengan resiko terlambat mengambil keputusan dari dirinya sendiri. Keraguan selalu melibatkan orang pada tarik-menarik tanpa kesudahan, perumitan ke dalam, gejala involusi: gerak stasioner tanpa pertumbuhan rohani.

Oleh sebab itu dia memasuki dunia bumi manusia – dunia riil: tanpa akal, dengan mengaktivir insting.

Sasaran pertama: Anaelis! Insting kejantannya dilecut oleh provokasi Robert Shurhoff. Kalkulasinya tidak matematis dan selera cintanya tidak rasis meskipun ia seksis dalam hal yang satu ini. Dengan cara ini keengganannya memakai nama keluarga bukan berarti kebendian terhadap sisilah dan bahwa ia terpikat pada Anaelis sejak pandangan pertama tidak bisa dibilang bahwa ia ingkar pada pribumi. Dia hanya menerapkan azas selektif untuk pemuasan seksual dan memilih kecantikan daripada keuntungan seorang Raden murid sekolahan.

Sesungguhnya insting kejantanan memburu kecantikan bukan untuk memberikan perlindungan pada makhluk dari sepotong tulang rusuk melainkan agar kejantanan bertambah jantan. Dengan cara ini watak kecantikan – seperti hanya kejantanan – tidak boleh dipretheli sehingga hanya terlihat anggun namun kehilangan ketegarannya. Kecantikan adalah hasil akhir dari akumulasi kerja generasi demi generasi, bagian dari seleksi alam. dalam bentuknya yang sempurna, kecantikan adalah letak dan bentuk tulang yang tepat, diikat oleh lapisan daging yang tepat pula, kulit yang halus lembut, mata yang bersinar agung, mengatasi kemewahan dan segala yang indah.

Tetapi Minke keliru besar sebab ia secara heroic berubah dari lover menjadi dokter. Ia berkhianat terhadap manusia yang pada hakekatnya sehat. Anaelis didokteri sehingga akibatnya, kemelut dalam dunia tiga penghuni bumi (ontosoroh, minke dan anelis) yang telah diantisipasi dengan baik oelh Nyai Ontosoroh, berakibat tragis bagi Anaelis.

Kalau terhadap tragedy itu Minke dapat mengambil kesimpulan tentang dunia tanpa jaminan dan melalui refleksi mengibarkan bendera putih, Yani Ontosoroh kembali mengobarkan semangat patriotic: “lawan sehormat-hormatnya”., tetapi Anaelis tak lebih dari korban peperangan dan tumbal ilmu pengetahuan.

Dari tragedy itu pula Minke baru dapat melihat bumi riil manusia, Anaelis menolak bumi riil manusia, dan Nyai Ontosoroh dapat berkata: ya pada realitas bumi manusia. Bumi manusia adalah gerak narasi tentang eksistensi manusia: dari to have or not to have, menuju to have or to be, untuk sampai pada to be or not to be. Dari Anaelis menuju Minke untuk sampai pada Nyai Ontosoroh.

Sebetulnya ketiganya mempunyai potensi alami realisasi diri. Meskpiun demikian, Anaelislah yang paling tidak taat pada aturan tertinggi mengenai perilaku: bahkan bilaman sendirian orang tidak harus “membuang segala kekangan”. Bagi Anelis barangakali kerja badan adalah latihan menjadi rendah hati, Nyai Ontosoroh memandang disiplin tubuh: teknik menjadi unggul dan tangguh, sedangkan Minke melibatkan diri dalam penderitaan kekasih agar menjadi radikal. Secara ekstrim itulan perbedaan antara seorang pertapa, sang prajurit dan si intellectuiil. 

Sumber:

Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Hans Kung, Nihilism – Consequence of Atheism

Friedrich Nietzsche, Senjakala Berhala, Bentang. Yogyakarta.1999

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: