Tuyul, Setan Gundhul dan Hantu Korupsi

Februari 20, 2008

TUYUL, SETAN GUNDHUL DAN HANTU KORUPSI

Oleh F. Budi Sanyoto

Waktu masih kanak-kanak kita mungkin pernah dikenalkan dengan cerita-cerita tentang hantu-hantu penghasil kekayaan. Pada malam hari yang senyap di pedesaan yang selalu rindu pada pagi hari yang segar. Sekarang kita juga membaca dan mendengar cerita-cerita tentang hantu-hantu penghasil kekayaan seperti itu dalam versinya yang modern. Setiap hari di setiap wilayah republik yang selalu rindu akan ratu adil. Dahulu sering digosipkan makhluk gentayangan bernama setan gundhul, tuyul, babi ngepet, siluman ular dan lain-lain. Kini tak pernah henti diberitakan, digosipkan dan didiskusikan beroperasinya hantu-hantu korupsi.

Sebut saja setan gundhul, disingkat gundhul, sebagaimana ditemukan oleh Peter Boomgaard pada sebuah sumber dengan angka tahun 1860 (J.Thomas Linbald ed.:2000). Gundhul bekerja mencuri uang untuk tuannya. Ia dapat dibeli dari seorang dukun. Kepadanya harus diberikan ruang sendiri yang hanya boleh dimasuki oleh majikannya. Jika pemiliknya merawat dia dengan baik, gundhul akan membalasnya dengan kekayaan, menjaga serta melindungi rumahnya dari gangguan musuh-musuhnya.

Seperti apakah gundhul itu?

Dari penampilannya gundhul adalah bocah kecil berumur empat atau lima tahun. Kepalanya gundul seperti umumnya anak Jawa. Ia adalah pemberi kekayaan bagi sang tuan tetapi juga dianggap bertanggung jawab terhadap hilangnya kekayaan orang lain yang terjadi dengan tiba-tiba. Gundhul dapat dikontrak selama satu periode sepanjang tujuh tahun dan sesudahnya dapat dikontrak lagi hingga dua kali tujuh tahun. Lebih tegas dari pasal 7 UUD 45 sebelum diamandemen MPR. Kalau si pemilik tak memperpanjang kontrak, ia harus menyerahkan diri untuk disiksa di neraka. Kalau mau menunda siksaan, sang pemilik harus mengorbankan orang lain sebagai ganti dirinya. Jika pemiliknya setuju dengan keuntungan yang tidak terlalu banyak, yang dibutuhkan hanya seekor kerbau. Syaratnya ada dua. Pertama, gundhul harus diberi makan kacang ijo setiap hari. Kedua, jika pemiliknya perempuan atau istrinya mempunyai bayi, gundhul harus diteteki secara teratur. Gundhul sangat populer pada masa-masa itu.

Namun sekitar 70 tahun kemudian, beberapa informan melaporkan kepada Daszenies bahwa gundhul suka mengganggu orang dengan memindah barang-barang dan memainkan tipuan-tipuan, tetapi ia tidak jahat. Gundhul yang jahat mulai tak terdengar. Yang masih ada adalah gundhul yang suka menggoda tetapi tak berbahaya. Gundhul lemah pamor dan inilah saatnya tuyul memulai karier.

Pernah dipercaya, banyak orang memelihara tuyul untuk membantu mereka menjadi kaya mendadak. Tuyul itu juga anak kecil, seumuran gundhul, tiga atau empat tahun. Pendek, hitam dan sangat kotor –hidungnya selalu ingusan. Pemilik tuyul akan melakukan apa saja untuk memanjakan tuyul agar tak merajuk. Bocah ini tak akan mau   keluar untuk mencuri kalau marah. Si pemilik sering membawa tuyul ke tempat kerjanya, seperti toko besar atau pasar. Sepulang dari situ si pemilik akan mendapati sejumlah uang yang berhasil dicuri oleh si tuyul. Tuyul hanya bisa dilihat oleh pemiliknya dan ahli spiritual (dhukun). Kepada dukun seperti itulah orang meminta pertolongan untuk melakukan kontrak dengan setan jika ia ingin memperoleh tuyul

Tentu saja pemilik tuyul harus memberi imbalan untuk kekayaan yang diperolehnya secara mendadak. Pertama, sang tuan diminta memberikan kerabatnya sebagai korban. Kematian korban akan datang lebih awal dengan cara sangat mengerikan. Kedua, wanita kerabat tuannya yang mempunyai bayi harus menetekinya.

Tuyul dan gundhul adalah dua roh yang satu sama lain sama karakternya. Namun keduanya tetap beda. Mereka yang membuat perjanjian dengan gundhul akan dikirim ke neraka. Sementara pemilik tuyul maksimal hanya akan mati muda atau mati dengan cara mengerikan. Pemilik gundhul harus menghadapi hukuman Tuhan, pemilik tuyul tidak. Kekayaan hasil usaha gundhul kelihatannya lebih permanen sedangkan pemberian tuyul dapat kembali lenyap. Kelihatannya memelihara tuyul kurang beresiko daripada gundhul. Oleh sebab itu popularitas gundhul jatuh dan posisinya digantikan tuyul yang bangkit dari karirnya yang samar-samar.

Menurut Peter Boomgard, kejatuhan gundhul terjadi kira-kira semasa dengan depresi besar tahun 1929 sampai perang dunia kedua. Pada masa itu ekonomi Jawa terguncang hebat, kesempatan memperoleh upah lebih tinggi nyaris musnah total, orang-orang sangat terpukul jiwanya. Kue ekonomi yang terbentuk sebelum tahun 1930 hilang pelan-pelan. Kesempatan untuk kaya mendadak ikut musnah. Cerita tentang makhluk gundhul kehilangan audiens dan penuturnya turut memudar.

Setelah perang dunia kedua ekonomi mulai melaju. Kesempatan untuk memperoleh kekayaan muncul maka orang membutuhkan sosok hantu baru untuk menjelaskan kekayaan yang datang mendadak. Sosok itu sebisa mungkin harus mengingatkan pada pengalaman terakhir mereka. Tuyul, yang telah ada sebagai sosok hantu yang tidak terkenal, terbukti tepat untuk posisi itu.

Tuyul itu sendiri ternyata juga bukan roh abadi. Kepopulerannya memuncak pada dekade 80-an sampai pertengahan 90-an. Ketika itu ekonomi Jawa menghasilkan timbunan kekayaan yang cukup besar dan terkonsentrasi pada segelintir orang. Namun ia segera lenyap hampir tanpa bekas sejak 1998 ketika krisis utang dan politik antidemokrasi mengguncang sendi-sendi ekonomi negara-negara berkembang.

Sesungguhnya dalam masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kestabilan politik otoriter sebelum 1998 telah muncul samar-samar pesaing tuyul. Namun, ia  tidak datang dari kalangan bawah tetapi gentayangan di kalangan elit penguasa ekonomi dan politik negeri ini. Surat kabar kadang-kadang menyebutnya dengan hati-hati “korupsi”.

Korupsi itu juga menghasilkan kekayaan mendadak bagi tuannya. Ia juga tak dapat dilihat dengan panca indera oleh siapapun sampai-sampai sang tuan juga tak bisa melihatnya. Korupsi bukanlah sekedar makhluk halus atau roh yang tak nampak oleh mata. Ia adalah makhluk yang bisa salin wujud ke dalam berbagai bentuk modern lembaga formal dan kelihatan normal-normal saja. Perbankan, pemerintah, perusahaan, pengadilan, dewan perwakilan rakyat, sekolah, rumah sakit dan lain-lain.

Korupsi bisa disebut sebagai tuyul modern yang memiliki kekuatan hebat memindahkan dana-dana rakyat banyak ke kantong-kantong privat. Hebatnya lagi, rakyat yang jutaan orang merasa mau tak mau harus berhubungan intim dengan tuyul modern ini kalau urusannya dalam hidup sehari-hari ingin lancar. Sering dikatakan tuyul modern bernama korupsi ini telah menjadi bagian hidup sehari-hari orang Indonesia dan karena itu dianggap telah membudaya. Artinya, telah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Harus diakui tuyul yang satu ini jauh lebih digjaya dibanding tuyul lama dan setan gundul.

Setan gundul lenyap karena depresi besar, tuyul lama hilang dari peredaran dalam guncangan krisis ekonomi dan politik, sedangkan korupsi – si tuyul modern – tetap marak, menyebar, populer di mana-mana meskipun dituding dan dihojat sebagai biang kehancuran ekonomi nasional dan kesengsaraan mayoritas rakyat. Meskipun demikian tuyul modern tetap bisa lenyap asal semua pihak berupaya secara sadar untuk memberantasnya. Artinya, kemusnahan tuyul modern tak akan terjadi akibat guncangan-guncangan dari luar melainkan harus diupayakan secara sadar oleh masyarakat.

Karena karakter dasar tuyul adalah memberi imbalan kekayaan kepada tuan yang tak mau kerja keras, maka pemberantasan tuyul modern akan berlangsung efektif bila sistem ekonomi direkayasa untuk mendistribusikan kekayaan nasional secara adil kepada mereka yang bekerja. Terkait langsung dengan ini adalah tugas negara yang harus menjamin terjadinya distribusi kekayaan secara adil bagi warga negara. Sedangkan tugas pemerintah yang  terpenting dalam pemberantasan tuyul ini adalah memberi kerja bagi rakyatnya.

    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: