mbecak

Februari 21, 2008

“mbecak”Becak boleh hilang dari Jakarta namun mereka subur di kota-kota lain. Di kota-kota itulah mereka berjuang hidup sembari menahan tekanan modernisasi transport yang kian kencang. Becak bukanlah bentuk fisik alat transportasi semata tetapi di baliknya menggunung pertanyaan tentang makna masyarakat yang kita dambakan dan teknologi yang hendak digunakan untuk membangun masyarakat tersebut.

Keberadaan becak rentan oleh dua racun modernisasi. Racun pertama adalah imaji tentang kemanusiaan yang beradab, yakni aspirasi masyarakat tanpa perbudakan. Tukang becak digambarkan dalam pikiran sebagai budak yang diperas tenaganya untuk suatu kenikmatan mereka yang mau memakainya. Jelas dalam pikiran ini, lenyapnya becak dari muka bumi merupakan agenda rasional untuk mewujudkan misi agung masyarakat dan kota yang beradab.

Sementara timbulnya becak, sebagaimana kita tahu, sangat lekat dengan proses perkembangan masyarakat itu sendiri. Ia adalah jawaban rasional yang diberikan oleh orang-orang yang, seperti kebanyakan homo economicus lainnya, memilih salah satu di antara beberapa pilihan hidup yang tersedia. Ekonomi adalah ajaran tentang pengorbanan dan suatu kelimpahan optimum atas pengorbanan tersebut. Setiap orang pasti bersedia mengorbankan apa yang dianggapnya berharga demi mendapatkan sesuatu yang dianggapnya lebih bernilai. Tukang becak mengorbankan tenaganya, itu jelas. Namun ia tidak pernah mengorbankan martabat kemanusiannya dengan mbecak, itu juga sama terangnya. Dari cucuran keringatnya, mengalirlah tawa anak-anak dan perempuan yang ia cintai. Oleh sebab itu lenyapnya becak akan menjadi pertanda yang sangat penting saat berbaliknya aspirasi luhur tentang masyarakat tanpa perbudakan menjadi dogma tentang kemanusiaan yang membunuh sifat manusiawi peradaban suatu kota.

Bisa diramalkan oleh siapapun, begitu becak lenyap, akan segera muncul alat transportasi jarak pendek yang teknologinya pasti dirancang oleh pemikiran tentang energi penggerak yang bukan hasil metabolisme tubuh melainkan oleh pembakaran bahan bakar di luar tubuh manusia. Apakah itu bahan bakar fosil atau bio-fuel tidak penting-penting amat, sebab pemikiran tersebut sedang menyiapkan suatu duplikasi dari apa yang dianggap sebagai era ketergantungan kepada tenaga budak menuju masyarakat yang akan menjadi budak energi.

Becak mengatur mobilitas orang atas dasar kesepakatan antara calon penumpang dan tukang becak. Calon penumpang bukanlah tuan dalam soal mobilitasnya dan tukang becak masih dilengkapi dengan otonomi personalnya untuk suatu persetujuan dalam mobilitas tersebut. Pada era moda transportasi bermotor yang bersifat total masyarakat pasti akan terangkut hanya kalau tersedia bahan bakar yang cukup. Tanpa bahan bakar mereka akan terpaksa kembali ke kakinya sendiri, atau kepada hewan, dengan resiko menanggung frustasi demi frustasi di jalanan yang sibuk, bising, kotor dan tentu saja intolerant di sana-sini.

Pada abad-abad silam berbagai rumah tangga produksi terlibat dalam berbagai usaha memperebutkan para budak. Kedudukan para budak lalu digantikan oleh para buruh sebagai pekerja “bebas” dalam era industrialisasi segala bidang demi pertumbuhan ekonomi. Jika becak lenyap, akan datang segera sesudahnya saling rebut energi dengan cara damai atau perang, secara komersial atau kriminal. Hasilnya adalah masyarakat yang menjadi budak energi tanpanya laki-laki akan terkulai dan perempuan menjadi layu karena impotent secara personal.

Racun kedua adalah kecepatan. Kecepatan didefinisikan sebagai suatu jumlah konsumsi per satu satuan waktu. Yang dikenal biasanya adalah konsumsi jarak, tetapi dewasa ini juga mengenai besaran file digital. Mobilitas bagi setiap orang perlu ditingkatkan demi mencapai suatu efektivitas. Namun boleh percaya atau tidak, meningkatkan kecepatan hingga melampaui suatu titik optimumnya pasti akan meningkatkan pula jurang dalam sistem ketimpangan yang berlaku di antara kita.

Setiap orang dapat memacu kendaraan semakin cepat di jalan raya hanya dalam dua cara. Pertama, dengan memaksa yang lainnya melaju lebih lambat, dan kedua, dengan mengkonsumsi lebih banyak energi. Melampaui suatu titik optimumnya, meningkatkan kecepatan berarti menambah perselisihan sosial yang sebenarnya dapat dihindari dengan mudah. Tetapi tidak cuma itu. Karena energi diolah dari kekayaan material alam, konsumsi yang terus meningkat berarti menambah kemiskinan alam.

Fakta yang dihadapi manusia, sebagaimana diketahui, sebenarnya sederhana: aktivitas manusia dibatasi oleh masyarakat dan lingkungan fisiknya. Dengan sendirinya batas-batas tersebut akan morat-marit tidak berapa lama sesudah waktu didefinisikan sebagai uang, dan tidak sekedar ditautkan dengan suatu jarak. Keinginan menambah kekayaan pada setiap orang umurnya setua peradaban, tetapi masa kini ditandai oleh gejala yang sangat kuat pengaruhnya, yakni penumpukan kekayaan makin berarti bila dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ekonomi adalah credo tuyul tentang janji kekayaan dan persembahan tumbal. Cara kerjanya bisa penipuan dukun dan penganggur, korupsi pejabat negara, suap pebisnis atau rekayasa teknis para profesional.  

Becak dikecam karena lamban dan memacetkan arus lalu lalu-lintas mobil. Tetapi apakah tanpa “becak” suatu kota bebas dari macet? Sumber utama kemacetan bukanlah kurangnya kecepatan melainkan over-speed kendaraan dan overdosis energi.

Dalam kecamuk alam pikiran padat modal, eksistensi becak merupakan pralambang yang menyingkap hasrat dan pikiran kita kini: apa yang sesungguhnya sedang kita kejar dan dengan perangkat teknologi yang bagaimana kita akan melaju untuk meraihnya?

Sudah naik becak hari ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: