JALAN KETIGA – Investasi Fokus ala Warren Buffett

Juli 28, 2008

Siapakah investor paling terkenal dan paling sukses dewasa ini? Untuk pertanyaan itu banyak orang akan menyebut: Warren Buffett! Bintang yang menyinari Buffett mecorong gemilang dalam dunia investasi dewasa ini. Dunia investasi itu sendiri cenderung direduksi sebagai investasi keuangan, dan dunia investasi keuangan sesak oleh hiruk-pikuk praktek jual-beli surat-surat berharga. Itulah yang disuguhkan kepada kita: ekonomi yang dipentaskan dengan iringan riuh-rendah wacana media massa tentang aktivitas dan pemikiran paling menonjol yang dikerjakan sekelompok  orang dalam menjalankan fitrahnya sebagai homo economicus. Pada pentas itulah terlihat dengan gemilang sosok Buffett sebagai seorang pemilih saham yang brilian, tokoh utama dengan sederet  kisah sukses di antara jutaan cerita sukses dan gagal para pelaku lainnya.

 

Untuk Warren Buffett, itulah kebenaran virtual. Setiap orang dalam ekonomi pentas seperti itu bebas untuk berpuas diri menemukan inspirasi untuk sukses, yakni memilih saham secara brilian. Pada saat seseorang menganggap sukses yang diraih Buffett merupakan hasil tertinggi dari perannya sebagai seorang pemilih saham yang brilian, saat itu juga ia telah menemukan satu kebenaran. Itulah kebenaran (di atas) pentas. Namun tetap ada kebenaran lain, kebenaran di luar (pentas). Bagi  anda yang ingin mengetahui kebenaran di luar (pentas) yang dimainkan Buffett, ada referensi  yang tak boleh dilewatkan begitu saja, yakni sebuah buku yang ditulis oleh Robert G. Hagstrom. Judulnya langsung menunjuk isinya tanpa tedeng aling-aling: THE WARREN BUFFETT WAY, dengan sub judul yang menggelegar “Strategi Luar Biasa Sang Investor Legendaris Dunia”. Kalau dalam dunia sosiologi telah dipelopori perumusan  JALAN KETIGA oleh Anthony Giddens, pada era yang kira-kira sama dunia investasi juga mendapat pengaruh dari The Warren Buffet WAY sebagai jalan ketiganya.

 

Apa yang dikerjakan Buffett dengan sukses pertama-tama bukanlah memilih saham melainkan memastikan bisnis yang secara fundamental memang kuat tetapi dinilai oleh pasar lebih rendah daripada nilai intrinsiknya.

 

Sebatang pohon dapat disebut dari buahnya. Seorang manusia dapat diidentikkan dengan kerja yang ia lakukan sehari-hari. Sesosok investor dapat dinilai dari aset produktif yang ia beli. Bagaimana Warren Buffet bisa dijuluki Investor Terhebat di Dunia? Sepenggal dari seluruh kehidupan Buffett mungkin di luar bayangan sebagian besar pembaca di Indonesia. Buffet belia mulai membaca buku-buku ayahnya mengenai bursa saham pada usia 8 tahun. Tiga tahun kemudian Buffet remaja ditugasi memberi tanda pada papan daftar harga di perusahaan pialang tempat ayahnya bekerja. Sesudah lulus kuliah dan bergelar master di bidang ekonomi ia bergabung dengan perusahaan mantan dosennya untuk bekerja selama dua tahun. Setelah menjalani pengalaman investasi bersama sang guru, Buffett muda (25 tahun) membuka usaha kemitraan investasi dengan tujuh mitra. Kemitraan ini sukses melampaui target yang ditetapkan. Semula ditargetkan, kemitraan investasinya akan mengungguli kinerja indeks Dow sebesar 10 poin per tahun. Kenyataannya, bukan 10 poin melainkan 22 poin. Dalam pengertian yang sama kemitraan berhasi tumbuh dengan hasil uang yang berlipat sebesar 29,5% per tahun selama 13 tahun umur kemitraan investasi itu, yakni Buffett Partnership, Ltd. Pada akhirnya ia memutuskan untuk membubarkan kemitraan dengan alasan pasar sudah berada dalam kondisi sangat spekulatif dan sesudah itu Buffet mengakuisisi Berkshire Hathaway. Dengan perusahaan inilah Buffett melakukan tindakan-tindakan luar biasa dalam investasi dan mencapai hasil-hasilnya yang mengagumkan.

 

 

 

 

The Warren Buffett Way, sebagaimana diinterpretasikan oleh RGH, dapat diringkas menjadi empat aturan. Bentuknya seperti terlihat di bawah ini.

 

THE WARREN BUFFETT WAY

Aturan Bisnis:

1.       Apakah bisnis itu sederhana dan dapat dipahami?

2.       Apakah bisnis itu memiliki sejarah operasional yang konsisten?

3.       Apakah bisnis itu memiliki prospek jangka panjang yang menguntungkan?

Aturan Manajemen:

1.       Apakah manajemen rasional?

2.       Apakah manajemen bersikap terus terang pada para pemegang sahamnya?

3.       Apakah manajemen menentang imperative institusional?

Aturan Finansial?

1.       Seperti apa pengembalian ekuitasnya?

2.       Seperti apa laba pemilik dari perusahaan itu?

3.       Seperti apa marjin labanya?

4.       Apakah perusahaan itu telah menciptakan sedikitnya satu dollar nilai pasar untuk setiap dollar yang ditahan?

Aturan Nilai:

1.       Seperti apa nilai dari perusahaan itu?

2.       Apakah perusahaan itu bisa dibeli di harga diskon yang signifikan dari nilainya?

 

Aturan Bisnis

Bisnis yang Sederhana dan Mudah Dipahami

Pengertian sederhana dan mudah dipahami tidak mengacu mutlak pada bidang bisnis tertentu. Bagi seseorang suatu bisnis dapat ia pandang sederhana dan oleh karena itu mudah ia pahami. Meskipun demikian, bagi orang lain mungkin sekali bisnis tersebut terlalu rumit maka ia sulit memahaminya. Prinsip sederhana dan mudah dipahami bersifat universal. Setiap orang dapat menerapkannya sebagai prinsip menilai suatu bisnis sesuai dengan kompetensi masing-masing. Kepada para pendengarnya Buffett menganjurka,”Berinvestasilah di dalam lingkaran kompetensi anda”. Demikianlah Buffett memutuskan tidak berinvestasi pada perusahaan-perusahaan dengan teknologi tinggi sebab dia menyadari dirinya berada di luar kompetensi yang diperlukan untuk memahami bisnis yang dikerjakan perusahaan-perusahaan tersebut.

Konsistensi

Selama hidupnya bisnis selalu beroperasi dalam siklus naik dan turun. Meskipun demikian, sejarah kinerja suatu perusahaan dapat memperlihatkan apakah kinerjanya konsisten atau tidak. Manajemen perusahaan dapat mengubah rencana yang ditetapkan sebelumnya dan menjanjikan perubahan besar. Rencana dan janji tersebut sering sekali membuat silau mata pikiran investor dan calon investor. Kebanyakan orang masih sering mengabaikan ajaran klasik, seperti sabda Sang Master dalam film Kungfu Panda, bahwa pada hakekatnya hari esok adalah misteri sedangkan hari ini merupakan anugerah. Janji keuntungan besar di hari esok dapat membutakan banyak orang sehingga realitas bisnis masa kini luput dari perhatian yang seksama. Orang yang mau berinvestasi harus curiga pada janji-janji perubahan yang fantastis.

Prospek Jangka Panjang yang Menguntungkan

Meskipun pada hakekatnya terselubung misteri, bukan berarti masa depan sepenuhnya tak dapat diprediksi.  Dengan menggunakan wawasan intelektual, ketajaman intuisi dan teknik-teknik tertentu masa depan kinerja suatu perusahaan dapat diprediksi dengan cukup akurat. Wawasan intelektual, intuisi dan teknik peramalan dapat diterapkan dengan baik dalam membuat prediksi apabila berakar pada pengalaman keterlibatan yang intensif sepanjang usaha keras seseorang memahami suatu bisnis. Dalam kalimatnya yang ringkas Buffett mengatakan,”Definisi perusahaan yang hebat adalah perusahaan yang akan tetap hebat selama 25-30 tahun ke depan”.

 

Aturan Manajemen

Rasionalitas

Bagaimana kita dapat mengetahui apakah manajemen rasional atau tidak? Buffett mengajukan kriteria dengan menganggapa bahwa tindakan manajemen yang terpenting adalah alokasi modal perusahaan.  Bagian terpenting yang akan menjadi  modal perusahaan, sebagaimana kita tahu, adalah laba bersihnya. Beginilah jalan rasional yang dipikirkan Buffett.

 

Skema Alokasi Modal

Tingkat kematangan perusahaan

Pertumbuhan melambat

Lebih banyak kas daripada yang diperlukan untuk pengembangan dan operasional

Lebih banyak kas melebihi yang diperlukan

Kriteria

Investasi internal dana kas ekstra menghasilkan return > biaya modal rata

Investasi internal menghasilkan return di bawah biaya modal rata-rata

Keuntungan investasi rata-rata atau di bawah rata-rata

Menahan laba bersih & menginvestasikannya secara internal

Satu-satunya jalan yang rasional

Sangat tidak rasional

Tidak rasional

Kas akan semakin banyak menganggur, harga saham menurun, imbal hasil ekonomi menurun

Mengembalikan laba bersih kepada pemegang saham

Tidak rasional

rasional

Rasional:

1.       Menaikkan deviden

2.       Buy back saham

Menaikkan deviden berarti memberi kesempatan kepada para pemegang saham mencai keuntungan yang yang lebih tinggi di tempat lain

Buy  back

Jika saham terjual di bawah nilai intrinsiknya, bisnis menjadi bagus sehingga transaksi tersebut sangat menguntungkan pemagang saham yang masih ada.

Jika manajemen aktif melakukan pembelian di pasar, manajemen akan dinilai memerhatikan kepentingan para pemilik dan tidak sembarangan memperluas struktur korporat.

 

Membeli pertumbuhan (akuisisi)

 

 

Tidak rasional

Perusahaan yang diakuisisi seringkali nilainya terlalu tinggi dari nilai yang sebenarnya

Perusahaan yang harus berintegrasi dan mengelola suatu bisnis baru akan condong melakukan kesalahan yang dapat merugikan pemegang saham

Keterusterangan

Aturan tertinggi bagi manajemen dalam mewujudkan integritasnya pada kepentingan para pemegang saham adalah kejujurannya untuk melaporkan kinerja perusahaan secara terbuka tidak peduli apakah sedang jatuh, sedang memuncak atau rata-rata saja. Manajemen harus melaporkan kegagalan mereka dan mengakui kesalahan yang mereka lakukan sama terbukanya dengan kesuksesan yang mereka kumandangkan. Buffett menuntut manajemen melaporkan semua data yang diperlukan agar para pembaca laporan dapat menjawab tiga pertanyaan pokok. Pertama, berapa besar nilai perusahaan? Kedua, berapa besar peluang perusahaan dapat memenuhi kewajibannya di masa datang? Ketiga, seberapa baik para manajer bekerja dalam menangani masalah-masalah yang dihadapi perusahaan?

Aturan manajemen yang dituntut Buffet dari para manajer perusahaan seperti di atas tidak berasal dari langit. Aturan itu merupakan ekpresi dari pengalaman nyata yang telah ia kerjakan dalam memimpin Berkshire. Dengan sangat terbuka Buffett minta maaf kepada para pemegang saham Berksire atas kesalahannya dalam mengelola perusaan re-asuransi  General Re yang diakuisisi Berkshire pada 1998. Simaklah pernyataannya,”Saya yakin bahwa saya seharusnya dapat melakukan penghematan $100 juta untuk Anda, andai saya bertindak lebih cepat untuk menutup Gen Re Securities. Charlie (sejawatnya di Berkshire) mungkin akan bergerak lebih cepat menutup (perusahaan itu), tidak pernah diragukan lagi. Walaupun begitu, saya ragu-ragu. Sebagai konsekuensinya, para pemegang saham kita harus membayar harga yang jauh lebih tinggi daripada yang dibutuhkan untuk keluar dari bisnis ini”.

Imperatif Institusional

Apakah imperatif institusional itu? Imperatif institusional merupakan gejala mental sebagaimana diperlihatkan pada pola perilaku kawanan. Para manajer yang tunduk pada imperatif institusional memiliki kecenderungan untuk meniru perilaku para manajer lainnya meskipun sesungguhnya perilaku tersebut irasional alias tolol. Pada gilirannya ketundukan pada imperatif institusional akan mendorong para manajer untuk melakukan pembenaran (rasionalisasi) atas keputusan-keputusan yang sebenarnya digerakkan oleh kecenderungan irasional. Tunduk pada imperatif institusional terwujud pada hiperaktivitas para manajer yang disalurkan melalui aksi-aksi pengambilalihan bisnis. Dari satu sudut hiperaktivitas tersebut didorong oleh cara berpikir para manajer yang selalu membandingkan penjualan, laba bersih dan kompensasi eksekutif di dalam dan di luar industri yang mereka tekuni. Dari sudut lain Buffet juga berpendapat bahwa hiperaktivitas korporat marak karena sebagian besar manajer menilai diri berlebihan jika itu menyangkut kecakapan manajerial mereka sendiri. Imperatif institusional menularkan virus perusak yang dahsyat. Lebih dahsyat lagi bila para CEO menduduki jabatan mereka bukan karena memenuhi kompetensi mutlak, yakni keahlian berdasarkan pengalaman dalam alokasi modal, tetapi lebih karena keunggulan mereka dalam bidang lain, seperti administrasi, teknik, pemasaran atau produksi. Akhir dari fakta kurang pengalaman dan keahlian ini mudah ditebak. Para CEO sangat tergantung pada staf, konsultan atau bankir investasi. Manajer yang dapat dipercaya adalah mereka yang, dalam segala posisinya, mampu melawan imperatif institusional yang memberi kepada mereka segala macam desakan dan godaan kawanan eksekutif. Dalam satu jargon dapat diringkas bahwa manajer yang mandiri akan mengatakan,”Aku berpikir maka aku berani.”

 

Di luar tiga hal di atas, yakni rasionalitas, keterusterangan dan pemikiran mandiri, Buffett tiada henti memberikan tips bagaimana mengevaluasi para manajer. Membaca buku The Warren Buffet Way akan memperkaya wawasan kita.

 

Aturan Finansial

Warren Buffett  tidak bersandar kuat-kuat pada hasil tahunan dan sistem akuntansi yang memproduksi laporannya. Yang jauh lebih ia perhatikan adalah rata-rata hasil dalam 4-5 tahun dan nilai riil bisnis yang dijalankan suatu perusahaan. Oleh sebab itu aturan finansial yang dirinci dalam The Warren Buffett Way merupakan prinsip-prinsip finansial yang kokoh dan sebenarnya mengandung nada yang sangat instruktif. Fokuskan pada pengembalian ekuitas, bukan laba bersih per saham. Hitunglah “laba pemilik” untuk mendapatkan refleksi nilai yang sesungguhnya. Carilah perusahaan dengan marjin laba tinggi. Untuk setiap dollar yang ditahan, ketahuilah apakah perusahaan itu telah menciptakan sedikitnya satu dollar nilai pasar.

Pengembalian Ekuitas

Warren Buffet tak hirau pada laba bersih per saham. Mengapa? Kita tahu sebagian besar perusahaan menahan sebagian dari laba bersih tahun sebelumnya guna memperbesar basis ekuitas mereka. Kalau yang ingin diketahui adalah performa tahunan, laba bersih per saham sebenarnya tidak bercerita banyak. Buffett memilih menggunakan pengembalian ekuitas, yakni rasio laba operasional terhadap ekuitas, untuk mengukur performa perusahaan. Tentang pengembalian ekuitas ini The Warren Buffet Way tidak memberi penjelasan yang mudah dipahami oleh pembaca. Meskipun demikian, dengan lugas Buffett mengingatkan bahwa perusahaan yang baik dapat mengoperasikan bisnis yang bagus dengan pengembalian ekuitas yang tinggi tanpa menggunakan utang atau hanya dengan sedikit utang sebagai leverage-nya.

Laba Pemilik

Pada umumnya suatu perusahaan dinilai baik atau buruk dengan melihat laba bersih atau arus kasnya. Bagi Buffett cara tersebut tidak tepat. Laba bersih berguna untuk menentukan ekspektasi arus kas dari perusahaan tetapi arus kas hanya tepat digunakan untuk mengukur bisnis yang membutuhkan investasi besar di awal periode dan pengeluaran yang lebih kecil pada masa-masa sesudahnya. Arus kas tidak dapat digunakan untuk menilai secara akurat perusahaan yang harus melakukan belanja modal terus-menerus. Demikianlah arus kas cocok untuk menilai perusahaan yang beroperasi pada real estat, ladang gas atau perusahaan kabel tetapi tidak tepat untuk diterapkan pada perusahaan-perusahaan manufaktur. Untuk penilaian yang lebih akurat, Buffett menggunakan apa yang diasebut sebagai “laba pemilik”. Secara teknis laba pemilik merupakan jumlah dari pendapatan bersih, depresiasi, deplesi dan amortisasi, lalu dikurangi oleh belanja modal dan belanja modal kerja yang mungkin diperlukan.

Marjin Laba

Marjin laba merupakan ukuran yang vital dalam menilai kinerja bisnis. Tak ada gunanya penjualan meningkat terus-menerus jika penjualan tersebut tidak dapat diwujudkan menjadi laba. Apa yang menghalangi upaya menterjemahkan peningkatan penjualan menjadi peningkatan laba? Apalagi kalau bukan biaya. Secara khusus Buffett menyoroti biaya overhead. Biaya overhead seringkali menjadi sumber pemborosan sehingga suatu operasi bisnis yang berbiaya tinggi akan menjadi semakin tinggi lagi. Berdasarkan pengalamannya Buffett mengetahui bahwa untuk setiap sen penjualan terkandung tingkat pengeluaran yang sesuai. Haruslah diperhatikan dengan sungguh-sungguh berapa persen biaya overhead terhadap penjualan. 1%, 5% atau 10%? Bandingkan dengan perusahaan lain!

Prinsip Satu Dollar

Setiap satu dollar dari laba yang ditahan harus diterjemahkan ke dalam nilai pasar sedikitnya satu dollar juga. Itulah prinsip satu dollar. Karena nilai pasar tercermin dalam harga saham, kenaikan laba ditahan yang diinvestasikan dengan imbal hasil di atas rata-rata juga akan direpresentasikan ke dalam kenaikan harga saham.

 

Dunia bisnis ibarat rimba belantara dengan jutaan makhluk aneka ragam spesies. Melongok ke dalamnya kita akan menatap tebaran data yang tumpah ruah. Tugas investor adalah memilih, dengan segala daya yang dia punya,makhluk-makhluk yang sehat. Jadi, tidak ada tempat untuk berspekulasi bagi seorang investor sejati. Tetapi siapa itu investor sejati? Sekali lagi, dia adalah yang menanamkan uangnya ke dalam usaha yang diketahuinya berdasarkan kompetensinya sendiri.

 

Aturan Nilai

Investasi, pada hakekatnya, berarti membayar pada suatu harga untuk memperoleh nilai dari suatu bisnis. Investasi yang rasional, dengan demikian, dilakukan dengan langkah pertama menentukan nilai perusahaan. Langkah berikutnya adalah mengobservasi harga di pasaran. Apabila harga secara signifikan berada di bawah nilainya, itulah saat yang paling rasional untuk membelinya.

Bagaimana menghitung nilai bisnis?

Banyak sudah formula yang dirumuskan para ahli untuk menentukan nilai intrinsik suatu perusahaan. Meskipun demikian, Buffett menempuh suatu cara yang khas. Menilai suatu bisnis adalah mengestimasi total arus kas bersih (laba pemilik) dan memotongnya dengan suku bunga yang sesuai. Menggunakan cara tersebut mengandung makna bahwa radar investasi diarahkan hanya kepada perusahaan-perusahaan yang laba bersihnya, yaitu laba pemilik, dapat diprediksi. Bagaimana kita bisa percaya pada prediksi itu? Percayalah pada sejarah pencapaian laba bersih yang konsisten dari suatu perusahaan yang bisnisnya sederhana dan mudah anda pahami sebatas lingkaran kompetensi anda. Lagi-lagi Buffett mengingatkan, untuk membuat prediksi yang akurat kita harus kembali bersandar pada kompetensi kita masing-masing. Meskipun demikian, karena pada hakekatnya masa depan tetap merupakan bagian dari misteri besar sejarah, setiap prediksi harus dikenakan potongan. Bagi Buffett potongan itu adalah tingkat diskonto yang dianggap bebas resiko. Dalam pengalamannya Buffett menggunakan tingkat diskonto yang berlaku bagi obligasi jangka panjang pemerintah AS. Mengapa? Sebab, dalam waktu 30 tahun ke depan Pemerintah AS pasti (100%) membayar kupon obligasi pemerintah yang diterbitkan.

Berapa Harga yang Harus Kita Bayar untuk Bisnis yang Bernilai?

Untuk masalah harga yang pantas, Buffett menerapkan prinsip marjin kemananan yang ia pelajari dari gurunya, Graham. Marjin kemananan merupakan selisih positif nilai intrinsik suatu perusahaan dan harga sahamnya. Marjin keamanan tersebut harus signifikan. Jadi kalau hanya beda-beda tipis, ya lewatkan saja! Dengan marjin keamanan yang signifikan, investor akan terhindar hari resiko penurunan harga saham yang, bagaimanapun juga, tetap mungkin terjadi. Sebaliknya apabila dalam jangka panjang harga saham naik stabil, investor akan menikmati imbal hasil yang luar biasa.

 

STRATEGI PORTOFOLIO

Dewasa ini kita mengenal dua strategi manajemen portofolio, yakni manajemen portofolio aktif dan investasi indeks. Warren Buffet menggoyang status quo dua strategi tersebut dengan aksi-aksinya yang disebut investasi fokus.

 

 

Portofolio Aktif

Investasi Indeks

Investasi Fokus

Pendekatan transaksi

Jual-beli cepat pada harga yang menguntungkan

Beli – dan – bertahan

Beli dan bertahan

Tujuan

Terus-menerus mengungguli pasar

Meniru perilaku indeks patokan tertentu, seperti S&P 500

Imbal hasil investasi di atas rata-rata dalam jangka panjang

Metode

Prediksi harga saham secara periodik dan mengaduk-aduk portofolio

Reksadana indeks: portofolio yang sangat terdiversifikasi

Seleksi saham bernilai bagus, konsentrasi dana pada saham-saham tersebut, dan bertahan pada fluktuasi jangka pendek

Kelemahan

1.       Karena prediksi jangka pendek dalam dunia keuangan yang kompleks pada hakekatnya mustahil, menggantungkan keputusan semata-mata pada prediksi adalah sesuatu yang fatal dari segi logika.

2.       Aktivitas tingkat tinggi memerlukan biaya transaksi yang besar yang pada gilirannya pasti mengurangi imbal hasil bersih bagi investor/klien

Dalam kondisi puncak sekali pun imbal hasil reksadana indeks tidak lebih baik dari pasar secara keseluruhan meskipun juga tak akan lebih buruk dari pasar

Perusahaan-perusahaan dengan kinerja bisnis yang bagus mungkin sekali akan terlewatkan oleh investor yang tidak memiliki kompetensi menilainya.

Tipe investor

Agresif

1.       Investor dengan toleransi resiko yang sangat rendah

2.       Orang yang memiliki sedikit pengetahuan tentang ekonomi dari suatu bisnis tetapi ingin ambil bagian dalam keuntungan jangkan panjang hasil investasi

 

 

Bagaimanakah gambaran tentang investasi fokus tersebut? The Warren Buffett Way meringkasny dalam golden rules sebagai berikut.

1.       Konsentrasikan investasi Anda di perusahaan menonjol yang dikelola oleh manajemen yang kuat

2.       Batasi diri Anda terhadap jumlah perusahaan yang bisa benar-benar Anda pahami. Sepuluh hingga 20 sudah bagus, lebih dari 20 berarti memicu masalah

3.       Pilihlah yang paling baik di antara perusahaan-perusahaan Anda yang baik, dan masukkan sebagian besar dari investasi Anda di sana

4.       Berpikirlah jangka panjang: minimal 5 – 10 tahun

5.       Volatilitas terjadi, lanjutkan saja.

Dari segi jumlah perusahaan investasi fokus berkonsentrasi pada beberapa saham saja. Dari segi waktu investasi berorientasi jangka panjang. Segelintir saham dalam jangka waktu panjang, begitu ringkasnya. Strategi investasi fokus demikian akan menghadapi tantangan langsung, yakni tekanan-tekanan psikologis yang datang bertubi-tubi seiring dengan gejolak harga. Oleh sebab itu di luar kompetensinya, seseorang akan berhasil meraih sukses dalam investasi fokus apabila sanggup mengatasi tekanan-tekanan psikologis yang menyerangnya. Tak ada istilah panik dalam kamus investor fokus.

 

Demikianlah Buffet memandang masalah portofolio investasi dari arah yang berlawanan dengan teori portofolio modern.

 

Teori Portofolio Modern

Investasi Fokus ala Buffett

Resiko

Volatilitas harga saham

1.       Kemungkinan terjadinya kerusakan finansial dari suatu bisnis

2.       Resiko berhubungan langsung dengan horizon waktu. Dalam jangka pendek peluang prediksi harga saham besarnya setengah.  Dalam horizon jangka panjang, peluang akan berpihak kepada investor

Diversifikasi

Mengurangi resiko volatilitas harga saham-saham

Bukan diversifikasi tetapi konsentrasi lah yang akan memperkecil resiko. Konsentrasi pada beberapa saham memungkinkan investor mengetahui lebih banyak tentang beberapa perusahaan tersebut. Diversifikasi berguna bagi orang-orang yang tidak (mau) tahu cara menganalisis suatu bisnis.

Teori Pasar Efisien

Bursa saham adalah pasar yang efisien, semua saham sudah tepat harga, maka orang yang dapat unggul atas kinerja pasar adalah semata-mata karena nasibnya yang beruntung

Fakta memperlihatkan bahwa sebagian investor berhasil mengalahkan pasar secara konsisten karena menerapkan prinsip-prinsip investasi yang dasar teorinya berbeda dari teori pasar efisien.

 

Dalam investasi saham keputusan membeli adalah sepenggal cerita. Penggalan lainnya adalah cerita tentang menjual saham tersebut. Jika pada suatu saat diketahui bahwa perusahaan yang kita beli ternyata adalah perusahaan yang buruk, kita harus mengaku diri telah salah mengambil keputusan dan tentu saja tidak bijaksana bertahan dengan perusahaan yang ekonominya buruk dalam waktu lama. Untuk perusahaan-perusahaan yang baik, kita perlu mempertahankannya dalam jangka panjang, sedemikian lamanya sehingga langkah terakhir yang kita perlukan hanyalah menjualnya. Dengan strategi jangka panjang ini investor akan memiliki sedikitnya tiga keuntungan finansial. Pertama, membayar biaya transaksi yang kecil dan dengan demikian memperbesar pengembalian bersih pada saatnya. Kedua, memperbesar pengembalian bersih setelah pajak (dalam konteks investasi Buffett). Ketiga, modal kita akan tumbuh di atas rata-rata. Oleh sebab itu kita tidak perlu banyak mengubah portofolio investasi.

 

Penutup

Pada hakekatnya tantangan yang dihadapi dalam investasi fokus bukanlah besar-kecilnya uang di saku kita. Secara teknis, tantangan utama adalah menemukan perusahaan yang ekonomi bisnisnya bagus dan manjemennya solid. Secara psikologis, tantangan utamanya adalah disiplin terutama dalam mengatasi tekanan emosional yang menyerang kita saat harga-harga bergejolak. Inilah dua pesan penting Warren Buffett di antara sederet pernyataan-pernyataannya yang sarat makna. Pertama, kita tidak harus lebih pintar daripada yang lain; kita harus lebih disiplin daripada yang lain. Kedua, jika Anda menemukan peristiwa berprobabilitas tinggi, pasanglah taruhan besar.

 

Dari buku The Warren Buffett Way masih sangat banyak yang bisa kita serap saripatinya. Tulisan ini hanyalah kilas pengetahuan yang sempat mampir dalam pikiran setelah membaca buku tersebut. Tak lain dari ungkapan berikut yang tepat untuk mengakhiri sharing ini: The Warren Buffett Way sangat kaya pengalaman-pengalaman bernilai  tinggi tentang investasi, tidak hanya investasi saham tetapi juga investasi pada umunya.

 

salam dari jalan ketiga,

 

budinyoto

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: