Festival Borneo: MENDORONG KREASI ATAU MENEBAR ILUSI

Agustus 2, 2008

Borneo telah kehilangan sebagian besar hutannya. Isi perutnya juga terus dikapalkan ke luar negeri. Namun masih tersembunyi di antara gerak hidup sehari-hari masyarakatnya keindahan seni dan kekuatan budaya yang mengagumkan.  Dan persis lewat pintu festival tempo hari seakan hendak diutarakan kepada masyarakat luas bahwa kekayaan budaya Borneo sungguh-sungguh layak diekonomikan. Dalam istilah yang mudah dapat dikatakan bahwa budaya Borneo, sebagaimana diekspresikan dalam berbagai tarian dan ritualnya, amat menjanjikan keuntungan bila dikomersilkan. Untuk tujuan itu sudah tersedia kekuatan yang siap mengusungnya ke pentas dunia, yakni bisnis pariwisata.

Gagasan membisniskan ekspresi budaya suatu masyarakat merupakan fenomena biasa di mana pun di dunia. Demikian pula halnya dengan gagasan ekonomi yang meresapi Festival Borneo kemarin. Kita maklum, wisata budaya Borneo secara teoritis dapat memberikan kepada masyarakat alternatif industri yang tidak akan merusak keseimbangan alam sebagaimana indusri kayu telah melalap hutan dan industri pertambangan batubara telah mencetak danau-danau nir makhluk hidup. Namun segera harus ditambahkan jawaban untuk dua pertanyaan. Pertama, seberapa besar kekuatan etos sosial dan daya dukung alam dalam menopang ekspresi kebudayaan Borneo sebagaimana diperlihatkan dalam seni tari dan ritual di Gedung Sultan Suriansyah baru-baru ini? Pertanyaan tersebut penting sekali untuk dijawab karena tarian Borneo dan ritualnya, seperti yang lazim pada setiap ekspresi kebudayaan, terkait langsung dan mendalam dengan cara kerja alam dan dinamika masyarakat. Tarian Borneo merupakan ekspresi kebudayaan yang mengakar kuat pada kehidupan alam dan masyarakat pendukungnya. Ringkas kata, ekspresi yang khas seperti itu tidak jatuh dari langit melainkan tumbuh dari kehidupan alam dan kreasi manusia penghuninya.

Perihal hubungan positif yang langsung dan mendalam antara tarian dan ritual Borneo dengan alam dan masyarakatnya mudah sekali kita pahami. Dengan logika kita dapat mengemukakan bahwa semakin kaya kehidupan alam dan semakin kuat etos sosial masyarakatnya, akan semakin mendalam pula kesenian umumnya dan tarian Borneo secara khusus dalam mengekspresikannya. Sebuah tarian atau ritual sering diciptakan untuk mengungkpakan makna sosial atau religius dari momen-momen tertentu dalam daur hidup kebudayaan agraris yang dihayati suatu masyarakat adat. Ada pula yang diciptakan untuk mengungkapkan dan mengajarkan nilai-nilai moral, seperti amat pentingnya cinta kasih dalam perkawinan, kejujuran dalam pergaulan sosial, atau kerendahan hati dalam menjalankan kekuasaan.

Meskipun demikian, begitu kita menengok kenyataan alam dan masyarakat ada kekhawatiran bahwa hubungan positif yang langsung dan mendalam antara tarian dan ritual Borneo dengan alam dan masyarakatnya akan menjadi hubungan yang negatif dengan takaran yang setara. Contoh yang ekstrim adalah tragedi Sampit pada awal 1998. Tak ada estetika suatu tarian atau ritual magis  dalam tragedi tersebut. Sebaliknya yang berlangsung adalah sesuatu yang bengis dan ratap-tangis.

Kita dapat juga memikirkan secara logis untuk menangkap gejala-gejala yang mengarah kepada wafatnya ritual dan kesenian Borneo. Ritual dan kesenian itu bersemi dari kebudayaan manusia yang kehidupannya bertopang pada hubungan solidaritas dengan alam. Dalam hubungan semacam itu alam tetap kaya dan masyarakat tidak kekurangan sehingga ritual dan kesenian Borneo tidak tercipta dari masyarakat yang miskin tetapi dari mereka yang kebutuhannya tercukupi dan hatinya penuh harapan.

Sekarang kita menyadari hubungan intim hormat-menghormati antara alam dan manusia seperti itu telah hancur di sana-sini. Eksploitasi gila-gilaan atas kekayaan hutan Borneo telah menggundulkan lahan luas rimba raya yang amat kaya tanpa menambah kekayaan dan kesejahteraan sebagian besar masyarakat yang kehidupannya bergantung secara langsung  pada anugerah hutan.  Bahkan lahan yang telah miskin justru cenderung menjadi sumber konflik horizontal di antara anggota-anggota masyarakat. Lahan yang dulu menyediakan anugerah berupa hutan yang kaya sekarang terpaksa diterima sebagai sumber masalah lingkungan yang mengancam etos solidaritas sosial hingga berubah menjadi motif-motif segregasi sosial.

Bila tak ada restorasi atas alam Borneo, kita boleh membuat ekspektasi bahwa tarian dan ritual seperti yang telah digelar pada festival tahun ini akan tercabut dari akarnya: kehilangan basis material dan sosialnya. Dan oleh alasan itu seni dan ritual Borneo akan menjadi ekpresi budaya yang tidak impresif, suatu seni dan ritual tanpa roh. Suatu kematian, ringkasnya. Bila tak ada restorasi atas alam Borneo, pada suatu hari mungkin sekali akan ada penari berhias paruh burung rangkong tetapi burung itu sudah musnah dan sang penari tak pernah melihat wujud dan perilakunya. Seni tentu mengharapkan dari alam dan masyarakat suatu inspirasi dalam proses kreatifnya tetapi dambaan terhadap alam yang telah miskin dan masyarakat yang tertekan hanya akan menabur ilusi.

Bila pertanyaan pertama fokus pada hubungan antara alam dan masyarakat Borneo dengan seni dan ritualnya, pertanyaan kedua menyinggung hubungan antara seni dan ritual tersebut dengan bisnis wisata budaya. Pertanyaannya adalah kalau dengan AMDAL industri sektor primer hendak dicegah dari kemungkinan merusak lingkungan dan membahayakan masyarakat, dengan apakah industri wisata budaya hendak diarahkan agar tidak mendangkalkan spirit yang terkandung dalam seni dan ritualnya?

Masalah ini sama sekali tidak baru namun tetap menjadi tantangan serius dari waktu ke waktu, di satu tempat dan di tempat lainnya. Tidak hanya bagi para aktor kesenian dan ritual tetapi juga merupakan tanggung jawab para entrepreneur bisnis wisata budaya untuk memecahkan masalah tersebut. Kita tahu bahwa pebisnis di sektor wisata budaya dengan mudah sering menyatakan pandangan bahwa tak mungkin  mengharapkan keuntungan dari kesenian yang tidak bermutu tinggi. Meskipun demikian, logika keuangan seringkali mendominasi pemikiran sehingga ketika kesenian masuk  ke dalam tarik-menarik dunia pasar, ia justru lebih sering dipikirkan sebagai komoditi daripada sebagai suatu upaya semakin mengenal, mengembangkan dan mengungkapkan jati diri suatu masyarakat manusia dengan kebudayannya yang khas. Boleh jadi wisata budaya hanyalah jargon alias  slogan dan sebenarnya sekedar wisata pertunjukkan yang gemerlap namun miskin. Di sebuah desa wisata di Kalimantan Timur penulis pernah menyaksikan sebuah pertunjukan tari. Banyak wisatawan yang hadir dan menonton. Namun begitu pertunjukkan usai,  anak-anak berkerumun dan meminta uang kepada para pengunjung.

Proses pendangkalan dari wisata budaya menjadi sekedar wisata pertunjukkan seperti itu sedikit banyak dipengaruhi oleh strategi bisnis yang terlalu menggencarkan promosi tetapi minim perhatian pada segi produksinya. Festival Borneo tahun ini sedikit banyak juga terjangkiti kecenderungan degeneratif sejenis itu. Betapa tidak. Kepada para hadirin dan penonton disuguhkan pertunjukkan (seberapa pun indahnya) dan pidato (seperti apa pun memikatnya) tetapi mereka hanya diberi informasi yang amat sangat minim tentang latar belakangnya. Tak ada booklet atau brosur-brosur pemandu kecuali brosur tentang obyek-obyek wisata di masing-masing daerah. Kadang-kadang MC memberi tahu penonton tentang unsur-unsur naratif dari tarian atau ritual tetapi sayang sound system di gedung itu jelek sekali.  Memang baik adanya kita menerima kekurangan festival Borneo yang baru lalu. Meskipun demikian, masih perlu kita cari lebih jauh, dalam skala yang lebih luas seberapakah bagian yang diterima para pekerja seni atau ritual dari setiap transaksi bisnis wisata budaya? Jawaban atas pertanyaan ini penting sekali diketahui agar kita bisa mengukur seberapa besar pelaku bisnis wisata budaya memberi perhatian pada proses kreatif para seniman termasuk seniman Borneo.

Uraian tentang dua pertanyaan pokok di atas penulis maksud untuk mengemukakan bahwa kita tak bisa mengabaikan hubungan kreatif antara alam dan masyarakat dengan seni dan ritual Borneo. Kita juga tak bisa memandang sebelah mata terhadap hubungan industri (al) dalam bisnis wisata budaya yang hendak menggarap seni dan ritual Borneo menjadi sesuatu yang lebih bernilai-guna dalam pasar pariwisata.  Alasannya, wisata budaya sangat tergantung pada proses kreatif para seniman sedangkan proses kreatif itu sendiri berakar kuat pada solidaritas antara alam dan manusia. Festival Borneo memberi pilihan kepada khalayak: mendorong kebebasan dan proses kreatif atau menebar ilusi tentang jati diri.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: