Mempertahankan SDN Melayu Dua

Agustus 2, 2008

Menarik untuk diperhatikan dengan serius, ternyata kehadiran Duta Mall dengan hypermart-nya tak serta merta mampu menggeser SDN Melayu 2 yang sudah jauh lebih lama menempati areal strategis itu. Di satu sisi kenyataan tersebut secara simbolis melambangkan cara berpikir masyarakat yang berhasil mempertahankan keyakinan bahwa pendidikan, apalagi untuk anak-anak, terlalu penting untuk dikalahkan demi kepentingan ekonomi dan bisnis. Di sisi lain, apabila gedung SD tersebut berhasil dipindahkan, tentu kaum dewasa harus menjawab pertanyaan anak-anak: “Mengapa kami harus pindah? Apakah Duta Mall lebih penting dari sekolah kami? Apakah kami yang sekolah di sini kurang berguna dibanding mereka yang belanja di hypermart?”

Sekarang dua-duanya ada bersebelahan. Duta Mall beroperasi dan sekolah anak-anak itu tetap berproses seperti biasa. Meskipun demikian, dalam dua tempat itu tepat mengalir dua kontras dinamika. Hypermart dapat dipandang sebagai lambang budaya konsumsi mutakhir yang dipercaya akan mampu membebaskan ekonomi dari stagnasi  dalam suatu masyarakat yang sudah sedemikian mendalam diterobos oleh mekanisme pasar. Sebaliknya, sekolah dasar merepresentasikan sebuah lembaga yang secara tradisional memikul tanggung jawab mentransmisikan secara sistematis nilai-nilai intelektual dan budi pekerti yang dianggap sangat vital dalam menopang kebersamaan hidup suatu masyarakat sekalipun krisis mendalam membelit erat masyarakat tersebut.

Banjarmasin, sebagai kota yang tengah berkembang, akan terus mengalami konflik-konflik internal sama seperti kota-kota lain di Indonesia. Pertentangan antara keinginan menghadirkan pusat perbelanjaan besar dan kebutuhan untuk mengembangkan sekolah-sekolah yang sudah ada adalah salah satu contohnya. Terhadap kenyataan tersebut penulis berpendapat, SDN Melayu 2 tersebut justru harus dipertahankan keberadaannya dan dikembangkan menjadi sekolah dasar yang favorit dengan gedung, fasilitas dan guru-guru yang lebih baik. Mengapa demikian?

Pertama, secara sosial pusat perbelanjaan merupakan tempat bagi kaum berpunya untuk mengekspresikan eksistensinya sebagai bagian dari kelompok masyarakat dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Orang-orang dengan tingkat konsumsi tinggi jelas berada pada level sosial atas dalam stratifikasi sosial kita. Semakin tinggi tingkat konsumsinya, semakin tinggi pula kedudukan sosialnya dalam masyarakat. Kehadiran Duta Mall dengan hypermart-nya terang sekali merupakan proyek sosial yang hendak menegaskan keberadaan sekelompok orang dengan kedudukan sosial tinggi dalam masyarakat. Secara psikologis proyek sosial seperti itu tentu penting bagi mereka dan secara sosiologis memberi bentuk nyata pada identias sosial mereka. Namun harus segera ditambahkan bahwa Duta Mall dengan hypermart-nya tersebut tidak mengubah stratifikasi sosial yang menempatkan sekelompok kecil orang di tangga atas dan sebagian besar orang di bagian bawah.

Oleh sebab itu beroperasinya Duta Mall dengan hypermat-nya bisa ditoleransi tetapi tidak perlu diikuti dengan pemindahan apalagi penggusuran SDN Melayu 2. Sebab, pemindahan SDN Melayu 2 dari depan Duta Mall berarti memperlakukan pusat perbelanjaan sebagai lebih penting daripada sekolah, belanja lebih mendesak daripada belajar, atau proyek konsumsi massal lebih berguna daripada pendidikan untuk umum. Sebaliknya, mempertahankan dan mengembangkan sekolah dasar tersebut akan bermakna begitu mendalam bagi mayoritas orang yang percaya bahwa sekolah merupakan lembaga sosial paling penting tempat anak-anak, remaja dan kaum muda umumnya mengasah kemampuan intelektual, kepekaan sosial dan kehalusan budi pekerti. Dengan semua kualifikasi itu mereka dapat berjuang memperbaiki nasib hingga berhasil mencapai taraf hidup yang lebih baik kelak. Sekolah dasar tersebut harus dipertahankan dan dikembangkan sebab dari sanalah dapat diharapkan perubahan sosial, berbeda dari Duta Mall sebagai pusat perbelanjaan yang beroperasi hanya sebagai wahana reproduksi sosial.

Kedua, secara budaya antara Duta Mall sebagai pusat perbelanjaan dan SDN Melayu 2 di depannya sebagai tempat anak-anak belajar ditawarkan nilai-nilai yang amat berbeda. Memindahkan sekolah dasar tersebut demi tegak-megahnya pusat perbelanjaan berarti meremehkan pentingya nilai-nilai intelektual dan etos kerja yang diajarkan sejak usia dini dalam sekolah tersebut.

Seperti disinggung sekilas dalam bagian terdahulu, pusat perbelanjaan besar seperti Duta Mall menawarkan budaya konsumsi yang telah berhasil menyulap logika konsumen menjadi irasionalitas seorang pemimpi. Orang-orang mengunjungi pusat perbelanjaan untuk menikmati citra mewah manusia berkelas sekalipun daya belinya tidak akan menjangkau harga yang dipasang pada barang-barang yang dijual. Kelompok orang-orang demikian hidup dalam fantasi kemewahan meskipun pada kesehariannya hidup mereka sederhana saja. Mereka adalah orang-orang sederhana yang hidup dengan aspirasi kaum kaya. Budaya konsumsi yang berkembang biak dari pusat perbelanjaan seperti Duta Mall juga berhasil menyihir para pengunjungnya untuk membeli bukan apa yang sebenarnya mereka butuhkan melainkan apa yang sesungguhnya hanya merupakan keinginan belaka. Bahkan, dengan semua tampilan, promosi, strategi harga dan pembiayaannya apa yang sebenarnya hanya keinginan dimanipulasi dengan sangat halus sehingga orang-orang akan menganggapnya sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi dengan membeli.

Rekayasa psikologis seperti itu memiliki dampak budaya yang serius, yakni tergerusnya kemampuan masyarakat membelanjakan uang hasil jerih payah sehari-hari secara efisien dan efektif. Efsiensi dalam belanja adalah membeli barang pada harga yang paling murah sedangkan kriteria efektifnya adalah membeli barang yang benar-benar memenuhi kebutuhan hidup seseorang. Efisiensi dan efektivitas itu sendiri adalah software terpenting kebudayaan modern.

            Berbeda dari manipulasi yang dikerjakan pusat perbelanjaan, SDN Melayu 2 merupakan wujud konkret tempat anak-anak belajar mengenal nilai-nilai intelektual dengan semua etos kerja yang diperlukan untuk mencapainya seperti kejujuran, kerja keras dan semangat untuk berprestasi. Penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai intelektual yang ditanamkan sejak dini memiliki dampak yang sangat penting secara budaya. Apabila penanaman nilai-nilai intelektual tersebut berhasil, para lulusan sekolah akan berusaha mencari nafkah dengan mengandalkan kemampuan intelektual dan etos kerjanya, bukan dengan cara-cara korupsi, kolusi dan nepotisme. Nilai-nilai intelektual dan etos kerja tersebut membimbing manusia untuk menghargai rasionalitas dalam mengambil berbagai keputusan sekaligus memahami berbagai keterbatasannya. Dengan itulah kemajuan kebudayaan dicapai tahap demi tahap dan terciptalah dunia modern dewasa ini.

            Dengan pandangan di atas akan sangat sulit mempertanggungjawabkan secara sosial dan budaya semua upaya untuk memindahkan SDN Melayu 2 dari depan Duta Mall. Secara sosial, memindahkan SDN Melayu 2 dari depan Duta Mall berarti mempertahankan status quo stratifikasi sosial berbentuk piramid sekaligus memberi sinyal buntunya mobilitas sosial secara vertikal melalui jalur pendidikan formal. Secara budaya, memindahkan SDN Melayu 2 dari depan Duta Mall berarti menempatkan nilai-nilai intelektual dan etos kerja yang diperlukan untuk mencapainya di bawah nila-nilai budaya konsumtif kontemporer.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: