Modal Global, Negara Nasional dan Kritik Diri

Agustus 2, 2008

Modal Global, Negara Nasional dan Kritik Diri

 

Kapitalisme global terutama berwujud pergerakan bebas modal finansial. Uang memainkan peran yang sangat dominan, jauh lebih berpengaruh dibanding masa-masa sebelumnya. Juga penting jika ditegaskan, realitas baru ini betul-betul bersifat maskulin luar-dalam.

Akan kita temui dalam realitas ini, sebagaimana dikemukakan oleh para sarjana kontemporer, tiga poros: negara, pasar dan masyarakat. Namun pada ketiga poros tersebut perlu pula ditambahkan kekuatan keempat, yakni individu. Realitas kapitalisme global tidak ditandai oleh keseimbangan antar negara, antara negara dan pasar, antara pasar dan masyarakat. Berlawanan dari keseimbangan, realitas kapitalisme global menampakkan berlakunya sistem ketimpangan di mana-mana dengan modal finansial sebagai pemain utama. Kapitalisme global juga ditandai oleh kemungkinan baru, yakni individu yang melawan negara dengan sengit atau modal finansial yang makin innocent merampok individu.

Dengan mengamati pergerakan bebas modal finansial segera tergambar bahwa realitas kapitalisme global terdiri dari pusat dan pinggiran. Modal finansial tak punya teritori sebagai batas pusat dan pinggiran tetapi ia dapat dilukiskan sebagai laki-laki dengan perangai kanak-kanak, kecanduan tetek ibunya beserta semua pelampiasan yang dapat dia nikmati sepanjang hidup. Untuk praktisnya, AS adalah pusat disusul Eropa dan Jepang. Dari pusat inilah modal finansial terbang dalam formasi kawanan menyerbu dalam sekali klik ke pinggiran, termasuk Indonesia, yang kemudian dinamai pasar yang sedang tumbuh (emerging market). Sepanjang masih seksi, kawanan modal finansial tetap bertahan sampai terasa sinyal-sinyal lain yang mengabarkan adanya pasar yang lebih seksi. Demikian seterusnya modal finansial gentayangan demi pelipatgandaan diri. Terus berpindah-pindah dari pasar ke pasar di mana ia dapat memuaskan nafsunya menumpuk profit. Obsesi modal finansial bukanlah demokrasi atau otokrasi. Ia cukup dengan peduli pada diri sendiri.

Seperti yang biasa terjadi, orang-orang dapat saling menceraikan suatu jalinan di antara mereka karena suatu latar belakang, namun suatu jalinan yang erat mungkin sekali dilakukan karena mereka dipersatukan oleh satu tujuan yang kuat. Nah, inti keberhasilan dominasi kapitalisme global adalah kesamaan pada satu tujuan, yakni pelipatgandaan uang.

Setiap perubahan yang dilakukan manusia pasti terjadi dalam lingkaran: aksi – refleksi – aksi baru. Kalau perubahan bersifat personal, refleksi berarti kritik diri. Kritik diri begitu penting bagi seseorang yang sedang memperjuangkan sesuatu. Isi kritik diri itu juga sederhana, yakni apakah sesuatu yang sedang diperjuangkan itu benar-benar merupakan tujuan atau hanya sarana mencapai tujuan. Ajaran kebijaksanaan dan ajaran agama, termasuk gereja, masih bertahan dengan pendirian bahwa uang adalah sarana mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. Demikian pula pendirian yang dibakukan dalam ajaran ekonomi klasik. Dalam ajaran ini uang mewakili suatu nilai tukar. Artinya, nilai uang ditentukan oleh nilai barang dan jasa yang dapat dipertukarkan dengan uang tersebut. Ajaran ini masih tetap berlaku dalam dunia nyata.

Meskipun demikian, ekonomi pasar bebas memberi tafsir baru tentang uang. Dalam pasar bebas orang bebas memilih tetapi siapa pun tidak selalu tahu apa yang ia inginkan. Sebabnya sudah sering dibicarakan, panca indera seseorang dibanjiri saran-saran yang datang dari mana-mana sementara pikirannya kehilangan sebagian besar pegangan yang sebelumnya diberikan tradisi. Tradisi itu sendiri makin susut. Uang-lah yang kemudian jadi pegangan sekaligus tujuan. Apa saja akan dilakukan demi uang dan uang itu harus tumbuh berlipat ganda. Uang dapat dengan mudah membeli kekuasaan tetapi kekuasaan dapat juga dengan gampang merampas uang yang kita pegang. Namun dengan memiliki uang dalam jumlah besar, kekayaan itu memberi kita rasa kekuasaan.

Karena uang adalah kekuasaan, maka orang yang mengejarnya harus menghadapi orang lain dalam persaingan. Dalam kapitalisme uang direbut melaui persaingan. Sukses tidaknya seseorang dalam persaingan tersebut dapat diukur dengan sangat mudah, berapa uang yang ia miliki. Setiap negara juga demikian. Mereka saling bersaing untuk menarik masuk modal raksasa yang gentayangan membayangi rekening bank penduduknya. Kalau negara sudah oke, modal raksasa itu segera masuk, penduduk mula-mula sangat diuntungkan, misalnya dengan kucuran kredit yang bahkan tanpa agunan, dan kekayaan meningkat sampai suatu titik puncaknya untuk kemudian sebagian besar di antara pendududuk itu jebol rekening atau slip gajinya dalam waktu singkat.

Sebenarnya uang dapat dicari dengan cara-cara di luar persaingan. Namun dalam kapitalisme, mekanisme pasar digerakkan dengan cara-cara persaingan. Mengapa persaingan? Karena dengan persaingan, sumber daya yang terbatas jumlahnya dapat dimanfaatkan dengan teknik yang paling efisien. Tidak akan ada pemborosan. Jadi, pada akhirnya semua akan selalu berada pada situasi keseimbangan. Dalam ekonomi, tentu saja, keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Itulah teori persaingan sempurna yang menguasai hampir semua pelajaran tentang ekonomi. Teori ini sudah dikritik habis oleh para ahli meskipun tetap berjaya hingga sekarang. Inti kritikya: tidak pernah ada persaingan sempurna dalam realitas. Oleh sebab itu teori persaingan sempurna sebagai penopang pokok mekanisme pasar bukanlah ilmu pengetahuan. Ia adalah ideologi fundamentalisme pasar.

Kritik tentang asumsi persaingan sempurna sudah dapat menjatuhkan ekonomi dari status ilmiahnya. Masih perlu ditambahkan satu lagi kritik yang jarang sekali digarap oleh para sarjana. Aku mengambil gagasan dari Mahatma Gandi. Dalam metafora Gandi dikatakan, bumi ini lebih dari cukup untuk memberi makan makhluk hidup tetapi pasti defisit oleh karena kerakusan manusia. Kira-kira begitulah kurang-lebihnya. Inilah perbedaannya: ilmu ekonomi mengasumsikan sumber daya yang terbatas sedangkan Gandi memandang sumber daya yang sebenarnya berlimpah. Kalau benar (dan memang benar dalam hal sumber daya fisik), seharusnya ilmu ekonomi yang rasional akan menekankan teori, metode dan teknik yang tidak akan menambah kemiskinan pada alam. Kenyataannya jelas tidak begitu: sumber daya alam dikeruk habis dan tidak mungkin lagi dikembalikan. Sayangnya, Gandi bukan ekonom tetapi sarjana hukum. Sekarang kita mendengar dan akan sering mendengar analisa tentang ancaman krisis energi seolah-olah dunia benar-benar kekurangan tenaga. Padahal sebenarnya sebagian besar orang kebanjiran energi sampai pada level overdosis sehingga mereka kecanduan energi. Orang mengatakan krisis pangan, padahal sebenarnya yang terjadi adalah kecanduan beras.

Kekuatan pokok modal finansial global ada pada jiwa besar mereka untuk setiap saat melakukan kritik diri. Begitu mereka melihat surat berharga atau matau uang yang mereka pegang sudah terlalu mahal mereka akan segera jual, lalu terbang secepat mungkin. Atau kalau mereka melihat bahwa surat berharga atau mata uang yang mereka beli dengan harga 500 tetapi sekarang cenderung terus turun, mereka akan segera jual untuk menghindari kerugian yang lebih besar (cut loss).

Pada usia tertentu dan pada batas tertentu anak laki-laki akan memusuhi ayahnya.. Begitu pula dampak pergerakan modal finansial akan terus merugikan negara-negara nasional yang tidak mau mengatur diri untuk menghilangkan kelemahan-kelemahannya atau negara-negara yang mencoba mengisolasi diri dari sistem ekonomi global yang sedang berlaku. Tugas negara bukanlah menyembuhkan cacat pasar atau menghukumnya tetapi memperbaiki diri terus-menerus dalam bentuk meningkatkan kesejahteraan warga negaranya. Ini hanya mungkin jika negara-negara tersebut sungguh demokratis secara substansial bukan sekedar prosedural. Untuk negara kita, politik nasional masih sangat elitis sehingga kekuasaan dipegang dari satu oligarki ke oligarki lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: